Berita Terbaru
22 November 2017

Banyak tokoh masyarakat dan para akademisi mengkritisi bahkan menolak acara Miss World. Salah satu diantara alasan mereka adalah eksploitasi perempuan untuk kepentingan beberapa kalangan. Masalah eksploitasi tubuh perempuan untuk kepentingan bisnis sudah banyak disorot pemerhati masyarakat dan keperempuanan.  Diungkapkan bahwa bahwa tubuh perempuan dalam media massa menjadi alat yang sangat penting dalam berbagai proses sosial ekonomi, guna memberikan daya tarik erotis berbagai produk.

Era industrialisasi kapitalistik yang menempatkan perempuan sebagai objek eksploitasi berusaha mengkaitkan segala objek kecantikan dengan konotasi seksual. Lihatlah, begitu banyak perempuan cantik dan seksi dijadikan sebagai simbol produk-produk yang sama sekali tidak ada terkait dengan tubuh perempuan. Iklan mobil, cat pembersih mobil, ban mobil, cat dinding, dan sebagainya dipaksakan dibintangi iklannya oleh perempuan muda dan seksi.  Artinya, segala sesuatu harus diseksualkan dan dikaitkan dengan libido. Dalam perspektif inilah kita bisa melihat kegairahan para pebisnis dan ‚Äėmucikari kecantikan‚Äô terlibat dalam kontes-kontes kecantikan seperti Miss World. Panitia mengklaim, Miss World menjadi ajang promosi budaya Indonesia, seperti sarung dan karya-karya desainer Indonesia. Panitia itu benar, jika dilihat dalam perspektif  upaya seksualisasi atau libidonisasi sasaran penjualan produk.  Supaya calon pembeli produk terangsang syahwatnya untuk membeli, maka produk-produk itu  ditempelkan di tubuh perempuan yang cantik, muda, montok, menggairahkan, dan ‚Äútelah teruji serta terukur‚ÄĚ kecantikannya. Sebenarnya, apa yang hendak dipromosikan dan diharapkan untuk dilahap oleh para calon pembeli? Apakah mata, hidung, bibir, dada, perut, pantat, paha, betis para peserta kontes Miss World? Apakah para penonton masih tertarik melihat sehelai kain yang dibelitkan di tubuh  perempuan-perempuan cantik itu? Logikanya hanya satu: keuntungan materi dengan kemasan libido seksual.  Meskipun mengusung jargon baru: beauty, brain, and behavior (3B), tetap saja, yang terpenting adalah ‚Äúbeauty‚ÄĚ. Perempuan cebol, pincang, peyot meskipun mempunyai prestasi intelektual dan sosial selangit mustahil diberi peluang untuk melenggang di pentas Miss World. Sebab, secara seksual, ia tidak laku ‚Äúdijual‚ÄĚ. Dalam perspektif inilah, media sponsor Miss World bisa dikatakan telah melakukan ‚Äúkejahatan kemanusiaan‚ÄĚ, karena melakukan proses ‚Äúdehumanisasi‚ÄĚ dan eksploitasi perempuan sebagai objek seksual. Dalam Tesisnya, Kasiyan melukiskan fenomena semacam ini sebagai berikut: ‚Äú‚Ķ ketika perempuan cenderung distereotipkan secara sosial, bahwa nilai lebihnya itu hanya terdapat pada daya tarik seksualnya, dengan indikasinya adalah terletak pada kecantikan, kemulusan, kesegaran, serta kemontokan tubuhnya, maka tanpa disadari, akhirnya perempuan didorong dan bahkan ‚Äėdipaksa‚Äô untuk memenuhi tuntutan tersebut, jika ingin mendapatkan penghargaan dari masyarakat, yang didominasi oleh budaya patriarkhis. Pada sisi lain, untuk memenuhi tuntutan tubuh yang harus selalu tampak muda, segar, mulus, montok, menggairahkan, serta sederetan kualitas kesan citra artifisial lainnya tersebut, ia (perempuan) akhirnya menjadi korban stadium lanjut berikutnya, dari sistem kapitalisme‚Ķ Padahal dibalik semua itu, eksploitasi terhadapnya nyaris bersifat total, sehingga tubuh perempuan akhirnya terjerumus ke dalam apa yang dikatakan oleh Foucault, menjadi semacam power machinery  yang harus selalu dieksplorasi, dibongkar, dan dirombak ulang. Bukankah perempuan akan selalu memeriksa dandanannya berkali-kali di setiap saat, hanya untuk sekedar melihat, misalnya, apakah alas bedak dan lipstiknya masih lengket atau maskara-nya sudah rusak. Oleh karena itu, di bawah kuasa ideologi patriarkhi yang terefleksi dalam representasi iklan di media massa tersebut, tubuh perempuan dieksploitasi secara sistemik, hanya untuk semata-mata menghadirkan dan memberikan gairah kenikmatan.