Berita Terbaru
22 November 2017

Tidak dapat dinafikan akan adanya perselisihan di tengah para pejuang Palestina. Kubu pimpinan Yasser Arafat memilih mengubah piagam pembebasan Palestina lalu mengakui eksistensi Rezim Israel, mengakhiri perlawanan bersenjata dan duduk berunding dengan orang-orang Zionis.

Kelompok ini beranggapan bahwa meja perundingan bisa menjadi media untuk membebaskan Palestina dari pendudukan orang-orang Zionis lalu mendirikan sebuah negara yang merdeka bernama Palestina. Kubu kedua adalah mereka yang tetap menjunjung tinggi cita-cita pembebasan seluruh wilayah negeri Palestina dari pendudukan Zionis. Mereka meyakini bahwa orang-orang Zionis tak akan pernah bersedia menyerahkan sejengkalpun wilayahnyasecara cuma-cuma kepada pihak Palestina. Perundingan yang dimediasi oleh AS ini bagi mereka tak lebih dari sekedar tipu muslihat yang tujuannya menggiring semua pihak di kawasan untuk mengakui eksistensi Israel. Di pihak Israel, program teror terhadap para pejuang dan tokoh-tokoh perjuangan tetap menjadi agenda utama. Agenda teror ini dimulai dari dalam kubu Fatah pimpinan Yasser Arafat. Orang pertama yang menjadi sasaran adalah Abu Jihad, yang di dalam tubuh gerakan Fatah dikenal sebagai tokoh yang mendukung berlanjutnya perlawanan bersenjata. Abu Jihad tewas di tangan regu teror Zionis saat berada di kantor PLO di Tunisia. Di mata para pejuang Palestina, Abu Jihad ada figur yang disebut-sebut rival kuat Arafat untuk memimpin PLO. Tak heran jika muncul kecurigaan bahwa pembunuhan terhadap Abu Jihad dilakukan dengan koordinasi kubu pro Arafat di PLO. Tokoh Fatah lainnya yang menjadi sasaran teror adalah tokoh ketiga PLO, Abu Iyad. Kematian Abu Iyad sekaligus mengakhiri keberadaan figur pro perjuangan bersenjata di dewan pimpinan PLO. Usai merampungkan misi teror di tubuh Fatah, Rezim Zionis segera mengagendakan teror terhadap tokoh-tokoh Palestina di luar Fatah. Sasaran mereka adalah dua kelompok perjuangan berhaluan Islam, yaitu Jihad Islam dan Hamas. Sekjen Jihad Islam, Dr Fathi Shaqaqi pun diincar. Sekembalinya dari sebuah konferensi di Libya, Shaqaqi menjadi sasaran teror saat berada di Malta. Kemenangan revolusi Islam di Iran dan kegigihan bangsa Iran dalam melawan hegemoni AS meniupkan spirit baru pada sel-sel jaringan perlawanan anti Zionisme. Lebanon segera menjadi pusat aktivitas perlawanan terhadap Zionis. Banyak pemuda Lebanon dan Palestina terjun ke tengah medan perjuangan dengan semangat keislaman meneladani rakyat Iran yang berhasil menciptakan revolusi Islam di negeri mereka. Fathi Shaqaqi adalah salah satu tokoh perjuangan Palestina yang menangkap fenomena indah ini. Dia mengumpulkan para pemuda itu dalam satu organisasi perjuangan yang diberinama Jihad Islam. Tak lama setelah Jihad Islam terbentuk, Fathi Shaqaqi menjadi sasaran teror Zionis di Malta sekembalinya dari konferensi di Libya. Tokoh lain adalah Sayid Abbas Musawi, ulama pejuang dari kelompok Syiah Lebanon. Beliau tampil sebagai Sekjen Hizbullah, sebuah organisasi massa bernafaskan Islam yang berjuang melawan pendudukan Zionis. Para pejuang Hizbullah berhasil melayangkan pukulan telak ke muka rezim Zionis. Untuk melumpuhkan Hizbullah dan melemahkan spirit perjuangan kelompok ini, Israel merencanakan teror terhadap pimpinan Hizbullah. Sayid Abbas Musawi akhirnya diputuskan menjadi sasaran teror Mossad. Hujjatul Islam Sayid Abbas Musawi lahir pada tahun 1952 di desa Nabi Shits di kota Baalbek, Lebanon. Tahun 1966 dia berkenalan dengan Imam Musa Sadr, tokoh kharismatik Lebanon, di kota Tyre. Bersama Imam Musa sadr dia menimba ilmu agama di hauzah ilmiah kota Tyre. Tahun 1967, dia pergi ke Irak untuk melanjutkan studi ilmu agama di hauzah ilmiah Najaf dan berguru kepada para ulama di kota itu. Sayid Abbas Musawi mendirikan hauzah ilmiah atau pusat pendidikan Islam di kota Baalbek pada tahun 1979, bersamaan dengan kemenangan Revolusi Islam di Iran. Bersama sejumlah kawan, ulama Syiah dan murid-muridnya, dia mendirikan organisasi Hizbullah pada awal dekade 1980. Beberapa waktu setelah itu, Sayid Abbas Musawi dipilih untuk memimpin Hizbullah dengan posisi Sekjen. Tanggal 16 Februari 1992 bersama istri, anak dan tiga pengawalnya, Sayid Abbas Musawi gugur syahid dalam sebuah serangan roket oleh helikopter tempur Zionis terhadap rombongannya.

16 tahun kemudian, salah seorang pilot helikopter yang ikut serta dalam operasi teror itu kepada koran Zionis,Maariv menceritakan teror tersebut. Tanpa menyebutkan nama dan identitasnya sang pilot mengatakan, teror Abbas Musawi adalah instruksi langsung dari Kepala Staf Angkatan Bersenjata saat itu, Ehud Barack. Setelah rencana penculikan Abbas Musawi gagal, Israel memutuskan membunuhnya. Direncanakan pembunuhan ini akan berlangsung cepat dengan sasaran Musawi bersama rombongannya. Rute perjalanan rombongan ini dari Habashiyat, tempat Musawi menyampaikan pidato  pada acara peringatan teror terhadap Syeikh Ragheb Harb, dipelajari secara seksama. Ketika rombongan bergerak, tim teror segera melaksanakan tugas setelah menerima instruksi untuk menggempur semua kendaraan dalam rombongan itu. Dengan demikian, sasaran utama yaitu Musawi tak akan luput. Sayid Abbas Musawi gugur syahid dalam usia 40 tahun. Gugurnya sang pemimpin tentu menjadi pukulan telak bagi Hizbullah. Namun darah Sayid Abbas Musawi tidak tertumpah sia-sia. Kekosongan tempatnya diisi oleh ulama muda pejuang, yaitu Sayid Hasan Nasrullah. Di bawah kepemimpinnya yang kharismatik, Hizbullah berhasil mengukir berbagai prestasi dan kemenangan, yang salah satunya adalah terbebaskannya wilayah Lebanon selatan dari pendudukan rezim Zionis. Pada tahun 2006, Hizbullah berhasil mempermalukan Israel dalam perang 33 hari sekaligus mengakhiri mitos kedigdayaan Israel.