A L L A H I T U A D A
Oleh: Drs. K.H Muhammad Ma’shum Yusuf
- Banyak orang yang tidak percaya kepada Allah, karena tidak bisa melihat Allah dengan mata kepalanya. Jadi Allah dianggap tidak ada karena tidak bisa dibuktikan dengan mata atau pancaindra.
- Padahal kalau mereka jujur, berfikir yang lurus dan melihat dengan sungguh-sungguh, banyak sekali hal-hal yang ada disekitar mereka bahkan ada pada dirinya yang tidak bisa dilihat dengan mata kepala, tetapi tetap diyakini ada umpamanya nyawa pada dirinya, dan hawa yang selalu dihisap untuk bernafas sepanjang hidupnya.
- Diluar dirinya banyak sekali hal-hal yang ada, tetapi tidak bisa dilihat dengan mata, umpamanya daya tarik magnit, arus listrik, gelombang radio atau sinyal, daya tarik bumi dan lain-lain.
- Jadi, kalau mau percaya, tetapi harus melihat dulu, tidak benar, tersesat, bahkan bisa salah.
- Untuk mempercayai adanya Allah, bisa dibuktikan dengan banyak cara umpamanya:
- Dalil Naqli, yaitu berita dari Allah sendiri tentang wujud-Nya, bahkan juga diterangkan oleh Rasulullah SAW sebagai utusan-Nya (Al-Qur’an dan Hadist).Artinya: 1. Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. 2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, 4. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." Surat al-Ikhlas ayat 1-4.
- Dalil Aqly, yaitu kebenaran berdasarkan pemikiran contohnya, 1 + 2 = 3, kalau tidak bergerak pasti diam, apa saja yang ada, pasti ada yang mengadakan.
- Dalil Kaun, yaitu dengan melihat ciptaan yang ada di jagad ini. Adanya bumi pasti ada yang mengadakan. Bumi berotari, bergerak pasti ada yang menggerakan. Adanya peraturan siang dan malam, musim hujan dan musim kemarau pasti ada yang mengatur. Yang mengadakan, yang menggerakan, yang mengatur, itulah Allah SWT.
- Dalil Fithroh, yaitu kemampuan setiap orang yang terdapat pada dirinya tanpa belajar dari siapapun, contohnya, menangis dan tertawa, rasa kenyang, lapar dan haus, sakit dan enak dan lain-lain. kesemuanya menunjukan ada yang menetapkan dan menghendaki, yaitu Allah bukan dirinya, karena sudah ada sejak lahir.
- Dari sekian banyak dalil, membuktikan bahwa Allah itu ada, tidak usah diragukan, masuk akal dan pikiran. Jadi Allah itu ada, dan yang mengadakan semua makhluk termasuk manusia. Maka manusia harus menuruti Penciptanya (Allah SWT).
- Namun demikian, manusia tidak diperbolehkan untuk selalu memikirkan hakikat Dzat Allah, karena tidak akan bisa mencapainya, karena keterbatasan makhluk dan tidak akan menyamai kholiq dalam segala hal. Manusia supaya memikirkan apa saja yang diciptakan-Nya, untuk diambil manfaatnya sesuai dengan petunjukn-Nya demi kebaikannya. ingat, nasehat Rasulullah SAW:
Artinya: Pikirkanlah ciptaan Allah, tetapi jangan memikirkan hakikat Dzat Allah, karena engkau tidak akan bisa mengira-ngiraka-Nya ( H.R Muslim).
Semoga kita betul- betul percaya (beriman) kepada Allah SWT dan siap melaksanakan perintah-Nya (petunjuk-Nya). Amin










